Review tips dan trik tutorial komputer,free download software, antivirus, dll.

April 22, 2008

Model Bisnis Open Source

Filed under: Bisnis, Linux Tips

Siapa bilang open source tidak menghasilkan uang?
Siapa bilang menggratiskan software bakal merugi?
Siapa bilang membuka rahasia perusahaan (source code) akan membangkrutkan anda?

Redhat, Canonical, Novel, Mandriva, dan banyak lagi perusahaan tersukses tahun ini mengusung open source sebagai model bisnis mereka. Redhat untung besar dengan OS Redhatnya dan platform Jboss, Canonical menangguk hasil dari kerja keras mereka, Ubuntu. Novel pesta pora dengan SUSE-nya, begitu juga Mandriva.

Mereka memiliki produk, mereka berani membuka rahasia perusahaan (source code), mereka tidak merugi, sebaliknya, mereka sukses besar.

Sebagai pembanding, model bisnis umumnya (saya menyebutnya: gaya rimba) yang populer bisa saya singkat seperti ini:
“Temukan produk (misalnya: software/OS), kunci source codenya (patenkan bila perlu), jual sebanyak mungkin lisensi/kopinya, beli pesaing anda, jadilah satu-satunya, bila perlu, masuki juga industri-industri pendukungnya, maka anda akan terus eksis.”

Kebalikannya adalah model open source. Bisa seperti ini:
“Temukan produk (buat sendiri atau yang sudah ada), ijinkan free download (license free), buat komunitas solid, bangun brand anda, jual support, buat sertifikasi, maka anda akan sukses”.

Microsoft adalah contoh bagus perusahaan yang sukses dengan model gaya rimba.
Jika anda membaca sejarah awal microsoft, anda akan mencium adanya trik-trik (kalau tidak disebut kelici(k)nan), kerakusan (akuisisi, pertarungan di pengadilan, monopoli) dan eksploitasi sampai kering (update/upgrade komersial, bahkan dos/win 3.1 yang sudah outdate masih berlisensi komersil).
Atau yang pernah anda baca di media, bisnis model virus (diciptakan dan dibasmi orang yang sama!), dan sebagainya.

Jadi, anda sadarkan bedanya proprietary dan open source?
Jadi, bisa-kan anda menarik kesimpulan sendiri, mengapa saya menuliskan model bisnis kasar dan kejam yang banyak dianut saat ini sebagai gaya rimba. Dan model yang lebih ramah sebagai model open source?

Anda harus pahami perbedaannya!

catatan:
Bagi pelaku pembajakan, model bisnis proprietary sama sekali tidak mempan. Mereka, berada di luar sistem! Itulah sebabnya, mengapa perusahaan nekad berperang melawan pembajakan. Pembajakan, membuat mereka (perusahaan) sebagai penjajah tanpa bedil. Tak berguna!

Jadi, anda mau berbisnis open source?
Lakukan saja langkah-langkah di bawah ini:

  1. Temukan produk pilihan anda.
    Seperti redhat/canonical yang membuat OS sendiri (Redhat, Fedora, atau Ubuntu). Jika di Indonesia, mungkin anda memilih Zimbra. Anda memang tidak membuatnya, tetapi anda menguasai Zimbra dari A-Z.
  2. Berikan gratis, apakah melalui download, pengiriman gratis (shipit.ubuntu.com) atau jual murah (1 dollar ?).
    Model bisnis “berani rugi” yang dilakukan Canonical dengan memberikan layanan pengiriman gratis bisa jadi sulit anda tiru. Tetapi anda selalu bisa meniru inovasinya. Intinya, populerkan produk anda sepopuler-populernya.
  3. Bangun komunitas yang solid.
    Tanpa komunitas (basis pengguna), anda bukan apa-apa. Bangun brand image anda, brand anda asset paling berharga yang anda miliki. Hanya dengan melihat logo topi merah, konsumen redhat merasa akan mendapatkan layanan profesional sekelas enterprise bila berbisnis dengan redhat.

    Di bisnis gaya rimba, komunitas adalah pengguna. Pengguna adalah obyek, dimanjakan untuk dikuras uangnya. Sadar atau tanpa sadar. Secara berkala, anda disibukkan dengan membeli lisensi, membayar update/upgrade, dan sebagainya.

    Di model open source, anda tidak wajib mengeluarkan uang. Kalaupun anda menyukai sebuah produk, paling banter, anda memberikan donasi saja. Jika anda tidak mau membayar support komersil, anda bisa bergabung di forum/milis yang sesuai.

  4. Jadikan Mesin Uang.
    Berbisnis open source bukan berarti merugi melulu. Bukan berarti anda akan menjadi badan amal.

    Dunia open source adalah dunia kebebasan (inilah misi utama yang diusung Bapak Open Source, Om Richard Stallman). Anda bebas melakukan apapun dengan sebuah produk (sesuai lisensi free yang mengikatnya).
    Itu artinya:

    • Anda bisa menjual software hasil cipta/modifikasi anda.
      Misalnya Xandros yang menjual OS Xandros. OS Xandros sendiri berbasis Debian yang 100% free. Begitu juga Ubuntu, Mandriva, SUSE, Slax, dan sebagainya.
    • Anda bisa memodifikasi sebuah software, memberinya nama dan brand baru, kemudian menjualnya (full atau khusus bagian yang anda modifikasi saja!).
      Misalnya cedega dan transgaming yang memodifikasi wine dan menambahkan aplikasi pendukungnya (GUI, skrip install otomatis, support dan lainnya). Meskipun cedega/transgaming melakukan modifikasi dan menjualnya, wine sendiri tetap free.
    • Anda bisa memberikan support komersial.
      Anda memberikan layanan instalasi, konsultasi, pelatihan, integrasi bisnis, dan sebagainya sesuai dengan keahlian dan kepakaran anda dalam sebuah produk, misalnya Zimbra.
    • Anda menjual lisensi authorized/official support/sertifikasi.
      Bukan rahasia lagi, brand yang kuat saja bisa mendatangkan konsumen. itulah sebabnya, dimanapun gerai McDonald dibuka, anda bisa menangguk untung besar tanpa usaha ekstra keras.
      Siapa yang tak tahu Redhat? Sertifikasi yang dikeluarkan oleh perusahaan ini bisa menjadi nilai tambah pekerjaan anda.
    • Dan masih banyak lagi celah bisnis yang bisa anda manfaatkan, tergantung skill bisnis anda saja.
      Yah, produk open source-pun bisa menjadi sumber uang. Yang pasti, anda harus meneguhkan langkah anda dan memiliki keyakinan pada open source. Ada kata-kata bijak “Cinta itu terlihat di mata”.

Bisnis open source adalah bisnis kepercayaan.
Bukan jamannya lagi anda membodohi dan meng-eksploitasi habis-habisan basis pengguna anda.

Open source memberi anda kebebasan dan uang!

April 15, 2008

TIP BISNIS: Melihat Tujuan Bisnis Seperti George Soros atau Warren Buffet?

Filed under: Bisnis
 
 
    Beberapa waktu yang lalu ada orang yang bertanya kepada saya : dia adalah seseorang yang ingin mulai berbisnis. Dia belum memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya. Ia bertanya apakah sebaiknya ia mengambil franchise atau membangun bisnis sendiri. Pertanyaan saya kepada dia, apakah tujuan dia berbisnis? Apakah untuk tujuan jangka pendek atau tujuan jangka panjang ? Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai tujuan ini, saya ingin mengajak anda sebentar ke bisnis investasi.
 
    Jika anda pebisnis, mungkin ke-2 nama yang akan saya sebutkan bukan orang baru anda, mereka adalah : Warren Buffet dan George Soros. Ke-2nya adalah multimillionaire dalam dunia investasi. Namun mereka menjalankan strategi yang berbeda. George Soros lebih bermain di fluktuasi yang terjadi dalam jangka pendek, sedangkan Warrent Buffet lebih bermain di jangka panjang. George Soros mengikuti naik turunnya saham dan mengambil keuntungan di sana. Sedangkan Warren Buffet memilih saham-saham yang walaupun dalam jangka pendek berflutuasi, tetapi dalam jangka panjang memilik peluang untuk naik. Warren Buffet tidak peduli dengan rumor-rumor yang terjadi di bursa. Ia focus kepada saham yang murah tetapi punya kesempatan berkembang. Demikian pula dalam berbisnis, ada orang yang benar-benar memanfaatkan trend jangka pendek. Apa yang lagi mode, dia masuk ke situ, ambil untung sebesar-besarnya dan keluar sebelum pasar menjadi jenuh.
 
    Orang yang memiliki strategi bisnis seperti ini tidak terlalu peduli dengan perbedaan atau keunikan produk yang dimilikinya. Yang penting masuk pada saat yang tepat dan keluar pada saat yang tepat. Sekarang ini banyak sekali franchise-franchise yang ditawarkan dengan harga murah, tetapi umurnya cenderung pendek, hanya mengikuti mode. Mereka yang terjun ke bisnis seperti ini pada saat yang tepat dan keluar pada saat yang tepat akan meraup keuntungan terbesar. Masih ingat ketika Bubble Tea booming dan ada dimana-mana. Coba lihat sekarang, hanya yang kuat saja yang masih bertahan. Sekarang ini juga sedang booming bisnis Burger dan Kebab. Kita lihat saja, sampai kapan bisnis ini akan bertahan. Hanya yang paling kuat saja yang akan bertahan, yang lain akan mati. Anda juga bisa melihat fenomena ini di bisnis tanaman. Anturium dijual dengan harga gila-gilaan. Kita lihat sampai kapan ini akan terjadi. Begitu jenis tanaman lain mulai nge-trend, saya pastikan popularitas Anturium akan jatuh. Lihat juga di bisnis per-film-man.
 
    Tahun 2007 industri film Indonesia digempur oleh film-film setan dan mistik. Kita Lihat apakah di 2008 hal ini masih akan trend. Film "Ayat-ayat Cinta" menggebrak dengan tema yang berbeda dan tampaknya akan menjadi trend baru. Ada orang berbisnis dengan tujuan : mencari dan mengumpulkan uang secepatnya tanpa terlalu memikirkan yang lainnya. Ini yang saya maksud dengan tujuan jangka pendek. Orang seperti ini memiliki kelebihan dalam melihat sesuatu yang detail, karena ia harus tahu kapan harus masuk ke bisnis dan kapan harus keluar. Apakah berarti buruk untuk berbisnis di jenis bisnis seperti ini? Tentu tidak, hanya saja mereka yang masuk di saat yang tepat yang akan mendapatkan banyak keuntungan, sedangkan yang masuk belakangan akan sulit berkembang. Ada lagi orang yang berbisnis dengan tujuan jangka panjang. Ia ingin membangun sesuatu untuk jangka panjang. Ia memiliki visi dan perencanaan jangka panjang, tidak tergiur dengan trend-trend sesaat. Ini yang saya namakan tujuan jangka panjang. Hal ini mirip dengan yang dilakukan oleh Warren Buffet. Balik ke kasus franchise. Jika seseorang mengambil franchise, hanya untuk mengambil keuntungan dari trend, ini boleh-boleh saja tetapi strateginya akan berbeda dengan mereka yang mengambil franchise dengan tujuan jangka panjang. Untuk tujuan jangka pendek, yang penting adalah memiliki lokasi yang sangat strategis, sementara yang diperdagangkan bisa berganti-ganti mengikuti apa yang sedang trend. Untuk tujuan seperti ini, kejelian melihat pasar sangat-sangat diperlukan. Namun jika seseorang mengambil franchise untuk tujuan jangka panjang, maka ia harus memilih franchise yang telah teruji (telah lebih dari 5 tahun berbisnis, sukses dan berkembang). Yang harus diperhatikan juga untuk tujuan jangka panjang adalah kekuatan marketing dan inovasi.
 
    Tanpa marketing dan inovasi rasanya akan sulit bertahan untuk jangka panjang. Mana tujuan anda dalam berbisnis? Apakah hanya untuk mengumpulkan uang secepat-secepatnya atau untuk membangun sesuatu di jangka panjang? Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Jika anda ingin melihat artikel-artikel yang lain, silakan kunjungi www.omzetter.com Norman Firman MBA Sales & Marketing Coach www.omzetter.com
 
(materi diambil dari http://finance.groups.yahoo.com/group/Komunitas-Entrepreneur/) *






















Search Engine Optimization and SEO Tools

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham